Blog yang Saya ikuti

Tampilkan postingan dengan label Tari di awan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tari di awan. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Juni 2011

Rindu

Sore itu, pukul 4, Tari baru saja selesai menghabiskan waktunya berjam-jam bersama anak-anak yang menderita penyakit kanker. Sudah hampir sebulan, Tari menemani mereka. Sambil melepas lelah, ia pergi ke kafetaria rumah sakit dan meneguk segelas teh hangat.

Sejenak, Tari tersadar akan sesuatu di pikirannya. Sudah beberapa hari terakhir, Vino tak terlihat di sekitar rumah sakit. Berbeda dari biasanya, Vino sering membantu Tari menemani anak-anak di sana. Di tengah-tengah pemikirannya itu, beberapa suster dan dokter, datang dan pergi untuk menghampiri dan menyapa Tari yang betah duduk di kafetaria.

Sepuluh menit berlalu, sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggamnya. Pesan itu berbunyi, "Malam ini mas pulang ke Indonesia. :)" Harun, kakak Tari, mendapat liburan selama sebulan. Segera saja, Tari membalas pesan dari kakak satu-satunya itu. Tari membalas pesan singkat itu, "Wah!Benarkah? Bawa oleh-oleh ya! Nanti aku jemput deh, Mas. Jam berapa mendarat?" Sepuluh menit kemudian, pesan balasan dari Harun tiba, "sekitar jam 3 pagi, De. Tenang saja, Mas belikan banyak buat kamu. Mas tunggu ya, di bandara. Kalau tidak jadi, bilang ya, De." Betapa senangnya hati Tari. Sekian lama berpisah dengan Harun yang kuliah di luar negri, akhirnya besok pagi pulang juga ke Indonesia. "Asyik! Mas Harun pulang", ucap Tari dengan gembira di dalam hati. Setelah menghabiskan teh hangatnya, Tari segera pulang dan dengan semangat memberitahukan ayah dan ibu bahwa Harun akan pulang.

Malam berganti, jam 2 malam itu, Tari menjemput Harun ke bandara bersama ayah dan ibu. Tak berapa lama setibanya di terminal kedatangan luar negri, Harun pun terlihat datang. Tanpa malu-malu, dari kejauhan Tari berlari menghampiri Harun sambil berteriak memanggil namanya dan memeluknya erat, layaknya Cinta berlari menghampiri Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta. Harun sampai hilang keseimbangan dan hampir jatuh. "aku kangen sama Mas Harun", kata Tari usai melepas pelukannya. "Mas juga kangen sama Tari, adik mas yang semakin cantik ini", jawab Mas Harun. Ayah dan Ibu pun menghampiri mereka dan mereka pun melepas rindu. "kamu sehat kan, Run?" tanya ibu. "iya, Bu. Harun sehat", jawab Harun. "sudah-sudah, kita pergi dulu dari sini, baru tanya-tanya", kata ayah. Pagi itu, wajah Tari begitu berseri-seri. Begitu cepatnya, Tari langsung membayangkan pergi jalan-jalan dan bersenang-senang bersama kakaknya yang berbeda usia empat tahun dengannya itu.

Minggu, 12 Juni 2011

kisah yang tertunda

Cuaca hari ini teduh. Matahari bersinar, angin bertiup sejuk, meski langit sedikit kelabu. Rasa penasaran di benak Tari, masih menggebu. Ia ingin sekali tahu jawaban Linda atas ungkapan Setyo kepadanya. Ini hari minggu dan Tari sedang tidak ada jadwal kunjungan ke rumah sakit. Ia kemudian pergi menemui Linda di rumah sahabatnya itu. Semakin jauh Tari pergi meninggalkan rumah, semakin gelap langit siang itu. Sepertinya, hujan deras akan segera turun. Untungnya, ia membawa payung di tas, karena ia berangkat menggunakan bus umum antar kota. Rumah Tari dengan rumah Linda yang berjarak 25km itu, ditempuh dalam waktu dua jam perjalanan.

Jam 3 sore, Tari tiba di rumah Linda. Gerimis sudah mulai jatuh dari awan. Namun, paduan rok rampel bunga-bunga dan shirt biru laut yang dikenakan Tari, tetap terlihat cerah menawan beberapa orang di bus dan di jalanan sepanjang ia berjalan. Di depan pagar, Tari menelepon Linda, agar segera membukakan pintu untuknya. Tak berapa lama, pintu terbuka dan Linda menghampiri Tari. Mereka hanya berdua di rumah itu. Orang tua Linda bertempat tinggal di Bandung. Sedangkan Linda tinggal bersama dua orang keponakan perempuan yang saat ini sedang liburan semester ganjil ke rumah orang tua masing-masing.

Duduk berdua di ruang keluarga, bersama sahabat, sambil menikmati hangatnya minuman coklat di tengah suasana hujan gerimis, terasa sangat nyaman. Sejenak hiruk pikuk perkuliahan dan skripsi mereka, bak lenyap tersapu rintik hujan. Saat seperti ini, sangat sesuai untuk saling bicara dari hati ke hati. Linda memulai perbincangan dengan bercerita tentang rencananya pergi ke Bandung besok. "aku akan berada di sana selama 3 hari, karena ada acara keluarga besar," Linda memberitahu kepada Tari. "Kamu mau aku belikan oleh-oleh apa Tari?" Linda bertanya dengan mengukir senyuman manis di bibirnya. Kemudian, Tari menjawab, "oh, begitu. hmm, apa ya? Sebenarnya, apa pun boleh. Tapi kalau mau bawa Kartika atau Amanda, boleh banget, hihii" kali ini Tari menyengir lebar dibalik tawa kecilnya. Beberapa gurauan mengenai berat badan selanjutnya, membuat suasana pun menjadi semakin hangat. Hingga tibalah Tari memulai pembicaraan tentang Setyo. Tari memulainya dengan sebuah pertanyaan, "hmm, bagaimana dengan Setyo? apa jawaban kamu, Linda?" Pertanyaan itu pun berbalas sebuah senyuman lebar di wajah Linda selama satu menit, yang menimbulkan tanda tanya di benak Tari. Kemudian Linda berkata, "ckckck, Tari, Tari" tertawa kecil dan Linda melanjutkan dengan, "itu semua cuma bercanda. Aku cuma bercanda, Tari." Setelah itu, Linda tertawa geli sambil memandangi ekspresi wajah Tari yang terkejut, senang, dan bingung. Tak tega melihat ekspresi Tari itu, Linda pun meminta maaf di tengah tawanya, sambil mendekati Tari dan merangkulnya "maaf, maaf. Aku benar-benar cuma bercanda kok. Apa kamu benar-benar menganggapnya sungguhan, Tari? Itu cuma sedikit ingin tahu tanggapanmu saja sih. Karena dari gelagatmu itu, aku tahu kalau kamu ada rasa dan harap pada Setyo. Iya kan? Ayo, mengaku?" Cukup melegakan bagi Tari, setelah mendengar kata-kata Linda itu. Meski sebenarnya Tari agak malu, karena terkena tipuan Linda dalam waktu yang cukup lama. "aah, Linda. apa-apaan sih? eh, tapi akting kamu hebat juga ya!" kata Tari. Mereka pun tertawa bersama, akrab, dan semakin hangat.

Minggu, 14 November 2010

Perjalanan pulang

Malam itu, Tari baru saja pulang dari rumah sakit, setelah selesai mengunjungi anak-anak penderita kanker. Waktu menunjukkan hampir jam 9 malam. Ia pun mengemudikan mobilnya masuk ke jalur TOL, untuk mempersingkat waktu perjalanan. Di tengah hujan, ia melaju cukup kencang. Namun, tiba-tiba terdengar suara keras dari bagian belakang mobil. Mobil pun dihentikan dan ia keluar untuk mengecek keadaan. Ternyata, ban mobil bocor. "Astagfirullah, tega banget nih orang yang sebar paku dijalan", ucapnya sambil memandangi ban mobilnya yang kempes total. Ayah dan Ibu pergi ke Bandung tadi pagi, menghadiri pernikahan sepupunya disana. Hujan bertambah deras pula. Dan jalan tol semakin sepi. Ditambah lagi, ban cadangan pun kempes. Bagai jatuh tertimpa tangga, Tari benar-benar kalut, harus bagaimana lagi sekarang. Beberapa saat melamun, ada seorang wanita yang menghampiri jendela mobilnya. Wanita itu mengetuk jendela. Karena dilihatnya aman, Tari keluar dari mobil menemui wanita itu. Wanitu itu bertanya, "ada apa, Mbak? mobilnya mogok ya?" "bukan, ban mobilnya bocor", jawabnya. Wanita itu berkata lagi, "dibalik tembok tol itu rumah saya, mbak mau mampir? sekadar meminum teh? sepertinya disini dingin." "Kalau tidak merepotkan, bolehlah," sahutnya. Kemudian mereka berdua pergi meninggalkan mobil menuju rumah wanita itu.

"ohya,, saya Gita, Mbak. Disini saya tinggal dengan suami saya. Tapi ia belum pulang kerja. Mbak?" kata wanita itu memecah keheningan dibalik gemuruh angin dan hujan.
"saya Tari," singkat mengenalkan diri.
Gita, wanita itu, kemudian menyuguhkan teh kepada Tari, sambil bertanya lagi, "malam-malam begini baru pulang mbak? memang habis dari mana?"
Sambil memegang cangkir teh yang diberikan kepadanya, Tari menjawab, "terima kasih, saya baru pulang dari rumah sakit tadi."
"kenapa tidak minta jemput sama pacarnya mbak?" tanya Gita.
Sontak, hampir saja Tari tersedak teh yang sedang diminumnya. Lalu ia berkata terbata,"eh,hm, saya tidak punya pacar Mbak." Kemudian ia tersenyum pada Gita. "wajar saja, seorang Gita yang sudah bersuami bertanya seperti itu padaku", pikir Tari. "tapi, sekarang, bagaimana caraku untuk pulang ya? Sementara, Ayah dan Ibu sedang ke Bandung." lanjut Tari dalam pikirannya. Ia kemudian mengeluarkan handphone dari dalam tas. Melihat-lihat nama orang-orang yang kiranya dapat membantunya saat ini. Hingga, ia melihat nama Kelvino. Ia pun mencoba menelepon Vino. "Vin, apakah kamu sedang sibuk?" tanya Tari. Vino menjawab, "ehm, tidak juga, aku hanya sedang baca buku. Memangnya kenapa, Tari?". Meskipun merasa agak sungkan, namun Tari tetap menceritakan kondisi ban mobilnya yang bocor di tol. Dan Vino pun segera berangkat menghampiri Tari.

Tiga puluh menit kemudian, Vino datang dan mengganti ban mobil Tari dengan ban cadangan mobilnya, karena memang mobil mereka berdua bertipe sama. Setelah Vino selesai mengganti ban, Tari pamit pulang dengan Gita, "Terima kasih ya, sudah menemani saya dan atas ajakannya ke rumah". "Sama-sama mbak. Untung temannya langsung datang ya! Hati-hati diperjalanannya", sahut Gita. "Terima kasih Vino dan maaf jadi merepotkan", ucap Tari kepada Vino. Vino menjawab, "Selama aku masih bisa bantu, nggak masalah kok!"
Tari dan Vino melanjutkan perjalanan mereka, pulang ke rumah masing-masing.

Sabtu, 13 November 2010

Mengunjungi Rumah Sakit Kanker

Di pagi yang cerah ini, Tari masih merenung di atas kasurnya. Melamun tanpa arah. Memandangi cahaya matahari yang menembus jendela. Kemudian ia teringat akan skripsinya yang sedang menunggu untuk diselesaikan. Sehingga, ia beranjak bersiap diri. Tari akan pergi ke sebuah rumah sakit khusus kanker, melakukan penelitiannya terhadap anak-anak dibawah 10 tahun yang menderita kanker.

Pukul 9 pagi, Tari sudah siap mengeluarkan mobilnya dari garasi. Dari teras, Ibu memandanginya dan berkata, "hari ini kamu ke rumah sakit, Ri?" Sambil berjalan menghampiri ibu, ia menjawab, "iya, Bu. Mulai hari ini, Tari akan sering ke rumah sakit." "Kalau begitu, bawalah buah tangan untuk anak-anak disana." "nanti aku belikan di supermarket dekat rumah sakit," jawab Tari. Lalu, ia berpamitan dan berangkat ke rumah sakit.

Jakarta di pagi hari, masih berkelut dengan kemacetan jalan. Terjebak kemacetan adalah hal lumrah, juga bagi Tari. Tapi rupanya, ia masih memikirkan oleh-oleh yang ingin ia berikan kepada anak-anak di rumah sakit. Setibanya di supermarket, ia menelepon Kelvin, untuk sekadar meminta saran.
Tari : "Halo, Vin. Ini aku, Tari."
Kelvin : "Oh, iya. Ada apa, Tari?"
Tari : "Begini, aku mau minta saran. Anak-anak penderita kanker di rumah sakit itu, kira-kira akan senang jika dibelikan apa ya, vin?"
Kelvin : "hmm, aku rasa mereka senang diberikan mainan"

Menjalani hidup sebagai anak penderita kanker, sepertinya sudah menjadikan mereka terbiasa dengan bau rumah sakit. Atau bisa dibilang, waktu mereka lebih banyak mereka habiskan disana daripada di rumah. Jangankan untuk pergi ke sekolah, bermain saja mereka di rumah sakit. Sementara, rumah sakit yang ada, belum memfasilitasi mereka bermain dan belajar. Sehingga, menghibur anak-anak penderita kanker tersebut harus sering-sering dilakukan agar mereka tetap punya semangat hidup serta semangat untuk sembuh. Kemudian, Tari membelikan beberapa bonek, buku cerita, serta puzzle untuk mereka.

Setibanya disana, Tari menemui manager rumah sakit terlebih dahulu, namanya Pak Dibyo. Pak Dibyo menyambutnya dengan baik. Sepertinya, beliau paham betul bahwa anak-anak di rumah sakit ini akan senang bertemu dengan Tari. Pak Dibyo bertanya, "Anda membawa banyak sekali barang ditangan, sementara tas Anda juga terlihat besar dan penuh. Sebenarnya, apa saja yang Anda bawa?" Tari menunjukkan bahwa yang ditangannya itu beberapa barang yang ia beli di supermarket tadi, sambil malu-malu, ia menjelaskan pula bahwa ia juga membawa laptop beserta speakernya dan camera digital di dalam tasnya. Ia persiapkan beberapa film untuk ditonton bersama anak-anak. Kedatangannya ke rumah sakit seperti hanya untuk senang-senang saja bersama anak-anak. Tersirat bahwa Tari lupa bahwa ia sedang melakukan penelitian untuk skripsinya. Namun, Pak Dibyo justru semakin tersenyum mendengar penjelasan Tari, lalu berkata, "Saya yakin, kamu akan sangat bersenang-senang dengan mereka, tunjukkanlah bahwa kedatanganmu ini membawa kegembiraan untuk mereka".

Tari pun berjalan menuju ruang rawat inap anak-anak penderita kanker. Sambil menghirup napas panjang dan berdiri di depan ruangan, Tari kemudian membuka pintu ruangan secara perlahan. Ketika pintu sudah terbuka, ia melihat anak-anak sedang duduk rapi memperhatikan seorang pria sedang bercerita dihadapan mereka. Begitu ia masuk, suara langkah sepatu yang ia kenakan, mengalihkan perhatian anak-anak. Seorang anak berkata, "Teman-teman, kak Tari sudah datang"! Kemudian, semua anak-anak menghampiri Tari, meninggalkan pria yang bercerita tadi, dan satu per satu anak-anak itu memperkenalkan diri kepadanya, "Aku Jun", "Nama saya Gina", "Saya Rita, Kak", dan masih banyak lagi. Terlihat anak-anak itu bersemangat menyambutnya. Tari senang, bisa bertemu mereka dan langsung membagikan buah tangan yang ia beli. Sampai ia sadar, bagaimana mereka bisa tau namanya sebelum ia memperkenalkan diri? Dan pria yang sedang bercerita tadi yang masih duduk dikursinya itu siapa ya? Kemudian, Tari menghampiri pria itu, yang sedang menatap pemandangan ke luar jendela gedung rumah sakit lantai 9, berkata, "Permisi, maaf bila kedatangan saya mengganggu cerita Anda kepada anak-anak". Pria itu menoleh kepada Tari dan berkata, "iya, tidak apa-apa kok, Tari". Tari terkejut, karena ternyata pria itu adalah Kelvino.

Sabtu, 30 Oktober 2010

pergi untuk kembali

Di saat Tari hendak menemui seorang dosen pembimbing skripsinya, ia bertemu dengan Setyo di lobi kampus. Secara spontan, Setyo lebih dulu menyapa Tari, "Tari, apa kabar? Saya dengar kamu sempat kecelakaan mobil sebulan yang lalu?" Kemudian, Tari menjawab, "Oh, hai, Setyo! Alhamdulillah aku baik. Iya, cuma kecelakaan ringan saja, kok!" Tari pun melebarkan senyumnya sejenak dan berkata lagi, "maaf nih, aku sedang terburu-buru, sedang ditunggu dosen pembimbing." "Oh begitu! Semoga sukses ya, skripsinya," sahut Setyo. Tanpa basa-basi lagi, Tari langsung berjalan pergi meninggalkan lobi. Beruntungnya, Tari datang tepat waktu ke ruang dosen, sebab pak dosen hampir saja pergi untuk urusan lain. Dan bapak dosen juga memberikan tanggapan positif atas revisi skripsinya itu.

Selesai satu jam lebih Tari berdiskusi dengan dosen, handphone-nya berdering, tanda sms masuk yang ternyata dari Kelvin. Yaitu sebuah undangan dalam rangka syukuran atas kelulusan Kelvin.
"dear Tari, alhamdulillah kemarin aku wisuda. Sekarang aku sarjana kedokteran. Nah, hari Jumat, aku adakan acara syukuran di Jakarta. Kamu datang ya, Tar! Ok! Jam 7 malam di resto sunda Kemang ya! I'll be waiting for your coming. See you." 'oh, ternyata Kelvin sudah lulus. Aku harus bawa hadiah, nih' kata Tari dalam benaknya.
Tak lama setelah itu, Linda datang menghampiri Tari dan mengajaknya makan siang. Namun, karena kantin kampus sedang penuh, mereka akhirnya pergi makan siang di sebuah mall yang jaraknya dapat ditempuh dalam 10 menit saja dengan mobil. Sesampainya di food court mall dan mereka memesan makanan, Linda mengatakan suatu hal yang mengejutkan Tari. "Tar, kemarin sore, Setyo mengatakan perasaannya padaku bahwa ia jatuh hati padaku. Tapi, sebenarnya aku masih menyukai orang lain. Dan, sampai saat ini, aku belum memberikan tanggapan kepada Setyo. Jadi, bagaimana aku sebaiknya, Tar?" Kemudian, Tari mengatakan, "Benarkah? Kamu beruntung sekali ya, Lin. Jujur, aku tidak tahu harus berkata apa lagi tentang ini. Menurutku, ikuti saja isi hatimu, Lin. Dan pikirkan semuanya dengan baik." Sungguh terkejut, Tari mendengar hal itu. Namun, sebagai seorang sahabat, Tari harus tetap memberikan dukungan terbaik bagi Linda. Makan siang mereka pun berlanjut.

Selagi di mall, Tari sekalian membeli hadiah untuk diberikan Kelvin lusa. Sebuah ipod hitam yang di kemas sehelai kertas kado kuning pun siap.

Dua hari berlalu. Hari ini, jumat jam 7 malam, Tari tiba di resto tempat acara syukuran Kelvin berlangsung. Mengenakan kerudung biru pemberian Kelvin, dipadu long drees hitam dengan corak bunga biru muda dan jeans, Tari masih menengok-nengok mencari Kelvin. Sampai tiba-tiba ada yang memanggilnya dari arah jam 10, "Tari!!" Setyo ada di sana. "Kamu sedang apa di sini?" tanya Tari pada Setyo. Lalu, Setyo menjawab, "aku diundang temanku Kelvin, ia ada di sebelah sana. Kamu sedang apa?" Belum sempat menyambung pembicaraan dengan Setyo, handphone Tari berdering tanda panggilan dari Kelvin. "Tari, kamu sudah sampai?" tanya Kelvin. "Iya, aku sudah di dalam resto" jawab Tari. "Langsung masuk ke ruang VIP ya, ok!" sambung Kelvin dan menutup telepon. "aku juga diundang Kelvin, kalau begitu kita masuk sama-sama saja," ucap Tari pada Setyo sambil berlalu dari tempat mereka berdiri.

Tari dan Setyo masuk ke ruang VIP. Mereka segera menemui Kelvin. Sambil menyerahkan hadiah, Tari mengucapkan selamat kepada Kelvin atas kelulusannya itu. Meskipun masih terkejut karena Tari datang bersama dengan Setyo, Kelvin tetap menyambut Tari dengan hangat, "wah, terima kasih, Tar. Aku senang kamu bisa datang. Bagaimana bisa datang bersama Setyo?" Lalu, Setyo menyambung pembicaraan, "kami kan satu kampus, Kel. Tadi hanya kebetulan bertemu di depan resto. Oh, ya! Selamat ya, Vin! Semoga bisa jadi dokter yang baik dan sukses." Kelvin menjawab, "amiin, terima kasih, Yo. Ayo kita duduk bersama yang lain." Dan mereka pun berbincang-bincang hangat satu dengan lainnya, disuguhi menu masakan sunda. Termasuk di antara perbincangan di sana, Tari, Setyo, dan Kelvin larut dalam suasana suka cita. "Oh, ya. Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih, Vin. Kerudungnya cantik sekali," ucap Tari. "sama-sama, Tari" jawab Kelvin. "Aku benar-benar lupa bahwa kalian satu kampus" lanjut Kelvin. "oh, jadi, Tari adalah anak dari kawan ayah kamu itu, Vin?" tanya Setyo. Setyo merupakan teman lama bahkan sahabat Kelvin sejak smp hingga sma. Sehingga, sangat banyak hal tentang Kelvin yang Setyo ketahui, juga sebaliknya. "wah, iya, betul, betul, Yo" kata Kelvin. "wah, sungguh kebetulan kita bertemu di sini" sambung Tari.

Acara berakhir pukul 9 malam. Tari, Setyo, Kelvin, dan teman-teman lainnya satu per satu pergi meninggalkan resto sunda itu. "jadi, besok kamu akan pergi ke Australia selama 3 bulan untuk observasi laboratorium ya, Setyo?" tanya Kelvin pada Setyo saat mereka hendak berpisah pulang. "iya, begitulah, Vin." jawab Setyo. "oh, hati-hati di sana ya Setyo. kalau begitu, aku pulang duluan ya. Assalamu'alaikum semuanya" kata Tari dan ia pun masuk ke dalam mobil, lalu pulang ke rumah.

Sungguh tak disangka oleh Tari. Penyataan perasaan Setyo pada Linda; persahabatan Setyo dan Kelvin; kepergian Setyo ke Australia; semua begitu mengejutkannya dalam waktu berdekatan. Semua itu meninggalkan tanya di benak Tari, 'tanggapan apa yang akan diberikan Linda pada Setyo nanti? dan apakah Setyo tahu tentang perjodohan aku dengan Vino?'

Minggu, 17 Oktober 2010

menanti pelangi

Malam itu, sepulang dari rumah Dina pukul 9, Tari membuka laptopnya dan mengecek email. Ia menemukan email balasan dari Kelvin di Inbox, lalu segera membacanya.
"Dear Tari.
Setelah aku renungkan lagi, aku paham sekarang. Maaf ya. Dan aku tidak akan mencampuri urusan ayah kita. Oh ya, aku mengirimkan sesuatu untukmu tadi siang. Semoga, yang aku berikan itu bisa menambah kecantikan hatimu Tari. :)
Diterima yaa...
Sampai jumpa Tari."
Tari pun tersenyum. Ia sedikit lega membaca email itu. Karna sudah lelah, Tari kemudian tidur.

Dinginnya udara pagi yang diguyur hujan, membangunkan Tari jam 6 keesokan harinya. Saat itu ia teringat dengan kiriman dari Kelvin. Ia segera keluar kamar dan menanyakannya kepada mbak Mar -pembantu rumah tangga- "mbak, apa ada kiriman untukku kemarin?" Kemudian mbak Mar menjawab, "iya, Non (panggilan singkat dari Nona)! Itu ada di rak pajang ruang keluarga". Tari langsung membukanya. Ternyata, Kelvin mengirimkan dua buah kerudung dengan warna biru dan merah jambu.

"Wah, hadiah dari siapa itu, Tari?" tiba-tiba ibu datang dari arah dapur melihatnya memegang dua buah kerudung. Tari menjawab, "Kelvin yang memberikan ini". "Kelvin sudah kembali ke Bandung?" tanya ibu lagi. "Iya, Bu. Tari mau mandi dulu ya", jawab Tari dan pergi meninggalkan ruang keluarga. Entah kenapa, Tari begitu bahagia menerima pemberian Kelvin itu. Sehingga, hari itu juga Tari lagsung mengenakan kerudung merah jambu barunya ke kampus.

Setibanya di kampus, Linda adalah orang pertama yang ia temui selepas turun dari mobil. Ketika Tari menyapa Linda, Linda sempat terpaku sesaat mengenali perubahan sahabatnya itu. "Hai Linda! Kok diam begitu?" sapa Tari kepada Linda. "Sekarang kamu pakai kerudung, Ri? Semakin cantik saja kamu", sahut Linda yang berjalan mendekati Tari. "Terima kasih ya", lanjut Tari. "Oh ya! Kamu sudah sembuh, Ri? Aku dengar, mobilmu ditabrak truk ya?" tanya Linda. "Alhamdulillah, aku sudah baik. Hanya luka ringan saja, kok! Iya, begitulah", jawab Tari. Kemudian, mereka berdua segera menemui dosen pembimbing skripsi mereka di lantai 3.

"Terima kasih, Kel. Kerudung ini langsung aku pakai, lho! Aku suka sekali. :)" ucap Tari pada Kelvin melalui sms di hari itu.

Sabtu, 04 September 2010

seorang sahabat

Waktu berlalu, hari berganti. Sudah lama sekali rasanya, Tari tidak bertemu dengan sahabatnya semasa sekolah dulu. Ia bernama Dina. Untungnya, Tari masih menyimpan nomor telepon Dina di handphone. Jadi, selagi ingat, Tari pun menghubungi Dina lewat telepon. Kemudian, mereka berdua membuat janji bertemu di rumah Dina pada siang hari ini.

Dua jam setelah itu, Tari yang baru selesai membuat kue bolu ketan hitam, bersiap-siap pergi mengunjungi Dina di rumahnya. Dengan berbekal bolu ketan hitam, camera digital, dan mini laptop, Tari berangkat mengendarai mobilnya. Rencananya, Tari akan mengajak Dina berjalan-jalan ke PIM, untuk sekadar nonton film, duduk di cafe, atau shopping. Menghabiskan waktu bersama sahabat, rasanya akan menyenangkan, apalagi di saat yang cukup membosankan seperti yang sedang Tari alami.

Setelah menempuh satu setengah jam perjalanan, Tari tiba di rumah Dina. Dari luar, rumah yang hanya berpenghuni dua orang itu tampak sepi. Sejak tiga tahun lalu, Dina hanya tinggal bersama kakaknya. Sang ayah telah lama meninggal dunia dan ibunya meninggal tiga tahun lalu setelah mengidap penyakit ginjal. Dina dan kakaknya sama-sama kuliah sambil kerja paruh waktu. Jadi, mungkin Dina sekarang hanya sendiri di rumah. Begitulah bayangan di benak Tari.

"Assalamu'alaikum Dina", ucap Tari dengan sedikit berteriak di depan pagar rumah Dina. Tapi, karena tak segera mendengar sahutan dari dalam rumah, lalu Tari kembali mengucapkan salam, "Assalamualaikum. Din, Dina, ini aku Tari."Lima menit kemudian, barulah terdengar suara dari dalam rumah, "Wa'alaikumsalam, iya, tunggu sebentar ya Ri." Ternyata itu suara Dina. Lalu, dibukakanlah pintu rumah dan terlihatlah Dina mengenakan long dress biru dan celana bahan berwarna biru gelap. Sambil berjalan menuju pagar, Dina berkata, "Hai Tari, maaf ya agak lama. Tadi aku sedang menggoreng rollade di dapur."

Tari pun memasuki rumah Dina, lalu memeluk sahabatnya itu. Sambil tersenyum bahagia, Tari berkata, "Kamu apa kabar Din? Aku benar-benar kangen Dina. Maaf ya, sudah lama aku tidak menghubungimu." Ditengah pelukannya pada Dina, Tari merasakan suatu perubahan pada tubuh sahabatnya itu. Tari pun melapas peluknya dan ia berkata, "Kamu lebih gemuk dan sepertinya kamu sedang hamil ya Din?" Dina menjawab, "iya, kita masuk dulu yuk, Ri!" Kemudian mereka masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang keluarga. Tari melanjutkan pembicaraan mereka dan berkata, "Kamu sehat-sehat saja kan, Din?" Dina menjawab, "Alhamdulillah aku sehat. Sekarang, kandunganku memasuki bulan ke tujuh, Tari. Kamu juga sehat kan?" Suasana pun berubah seiring ekspresi kesedihan di wajah Dina. "Bagaimana yang sebenarnya, Din? Ceritakanlah padaku," kata Tari. Lalu, Dina memeluk Tari dan air matanya tak terbendung lagi. Kemudian, Dina menangis dipelukan Tari. "Sabar ya Din, apapun yang terjadi, aku akan berusaha membantumu Dina," kata Tari. Setelah beberapa lama, Dina berhenti menangis. Lalu, Dina mulai menceritakan peristiwa yang dialaminya, "waktu itu, bulan Maret tahun lalu, aku menikah dengan teman kerjaku namanya Irfan. Namun, orang tuanya tidak menyetujui pernikahan kami, dan kami menikah siri. Beberapa bulan kemudian, aku pun hamil. Tetapi, seiring dengan itu, kesehatan Irfan menurun perlahan. Ia didiagnosa menderita tubercolosis. Dan dua bulan lalu, Allah telah memanggilnya. Meskipun kedua orang tua Irfan tahu bahwa kami telah menikah, namun mereka masih belum menerimaku sebagai menantu mereka. Hanya Novi, adik Irfan yang masih bersikap baik padaku."
Kemudian, Tari bertanya, "apa yang bisa aku bantu Din?" Dina menjawab, "aku senang saat ini kamu disini. Aku masih bisa berusaha sendiri Tari." Tari berkata lagi, "Din, maaf ya, aku sama sekali tidak tahu keadaanmu selama ini. Sudah ya, jangan bersedih lagi. Kamu harus memikirkan dan menjaga bayi dalam kandunganmu ini kan. Ini Din, sengaja aku buatkan bolu ketan hitam untukmu. Dimakan ya, Din!" Dina berkata, "terimakasih ya, Tar!" Tari berkata, "setelah ini, kita jalan-jalan yuk, Din! Aku mau traktir kamu makan dan nonton." Lalu, mereka berdua pergi ke mall, dan menghabiskan hari bersama. Makan siang, nonton film, berbelanja keperluan bayi, dan pergi ke dokter kandungan untuk periksa kehamilan Dina dan usg. Saat proses usg, berlangsung Tari berkata, "wah, bayi kamu lucu, Din."
Dokter berkata, "diprediksi jenis kelaminnya perempuan."
Dina berkata, "bayinya sehat kan, Dokter?"
Dokter berkata, "alhamdulillah, bayinya sehat."
Usai usg, mereka kembali ke rumah Dina. Dina berkata, "terimakasih ya, Tar. Ohya, sudah malam, apa kamu mau menginap?" Tari berkata, "sama-sama, Din. Sepertinya, aku tidak bisa menginap, masih ada urusan yang harus aku selesaikan besok pagi. Maaf ya. Nanti, aku sempatkan waktu untuk main ke rumahmu lagi, Din. Sekarang aku pulang dulu. Hati-hati ya, Din. Assalamu'alaikum." Dina berkata, "wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai rumah, sms aku ya. Daah Tari!" Dan Tari pun kembali ke mobil, lalu pulang.

Jumat, 20 Agustus 2010

Hujan

Merenungi hari-hari yang telah dilalui, malam ini Tari ditemani hujan dibalik jendela kamarnya. Ia mencoba mengerti, apa dan bagaimana hingga hal itu terjadi. Saat dua hari lalu, ia bertemu dengan Kelvin untuk mencari kejelasan atas kata-kata perjodohan yang ayah ucapkan, sebelum Kelvin kembali ke Bandung, hari ini.

Dengan sedikit meluapkan emosi, Tari berkata kepada Kelvin, "aku sama sekali gak berniat menyinggung atau menyakiti hati kamu, tapi kalau kamu memahaminya begitu, aku bisa apa? aku harap, kamu pada akhirnya tahu, apa yang telah ku katakan tadi." Dan terlihat raut kekecewaan di wajah keduanya. Lalu, di sela suasana dingin antara mereka, Kelvin melanjutkan pembicaraan, "aku minta maaf dan sepertinya aku harus pergi sekarang. Lusa, aku akan kembali ke Bandung. Semoga, kita tetap berhubungan baik setelah ini." Pertemuan mereka pun selesai disitu. Bukan sebuah penjelasan yang ia temui, malah berujung kesalahpahaman.

Jika pembicaraan langsung saja bisa terjadi salah paham, apakah mungkin Tari menjelaskannya melalui telepon atau pesan kepada Kelvin di Bandung. Hujan di luar yang semakin deras, menenggelamkan suara lagu more than words dari westlife di laptopnya. Meskipun begitu, ia kembali duduk di depan laptopnya, dan mengetikkan email untuk Kelvin. Email permintaan maaf yang tak sempat ia ucapkan sebelum Kelvin pergi saat pertemuan terakhir mereka.
"Untuk Kelvin, Teman dan sahabat baikku.
Assalamu'alaikum.
Aku ingin minta maaf, atas kejadian dua hari lalu. Aku menyadari, mungkin secara tidak sengaja aku memang salah ucap. ..."

Waktu itu, Tari benar-benar ingin tahu, apakah Kelvin sudah mengetahui rencana perjodohan ayah mereka. Tari pun memulai pembicaraan, "begini Vin, aku ingin menanyakan tentang ..." Tari menghela napas sejenak. "apa sih? kelihatannya cukup penting", tanya Kelvin dengan nada penasaran. Lalu, Tari melanjutkan, "ayah mengatakan bahwa ia dan ayahmu berencana untuk menjodohkan kita, Vin. Apa kamu tahu itu?" Kemudian Kelvin menjawab, "benarkah? tidak, aku tidak tahu itu." Tari bertanya lagi, "mungkin ayah cuma bergurau ya? tapi, seandainya benar, aku harap kamu mengerti Vin kalau aku tidak suka dijodohkan." "apa karena aku? apa aku tidak pantas untuk seorang Tari?" tanya Kelvin. Dengan sedikit gugup, Tari menjawab, "bukan, bukan, aku hanya tidak suka dijodohkan Vin." Kelvin bertanya lagi, "bukankah itu sama saja, tidak suka dijodohkan berarti tidak suka padaku kan?" Dari sanalah pembicaraan mereka mulai mendingin. Emosi pun bermain.

"... Semoga, ini hanya kesalahpahaman antara aku dan Kelvin. Dan semoga, pertemanan kita bisa kembali seperti sediakala.
Teman baikmu, Tari

Hampir pukul 12 malam, email itu pun terkirim.

Sabtu, 17 Juli 2010

Mimpi, Kenyataan, dan Harapan.

"Setyo, sejak kapan kamu tertarik dengan sastra?" Tari memulai pembicaraan.
"waktu itu, saya kelas 2 sma. Sastra memang sangat menarik bagi saya, terutama untuk memberikan inspirasi. Awalnya, saya hanya mencari hal baru dalam mengembangkan musik saya. Namun, saya menjadi asyik sendiri menekuni sastra. Ternyata, sastra mempunyai kecocokan dengan permainan piano saya," paparan singkat Setyo.
"oh, begitu ya," lanjut Tari.
"Setyo ini koleksinya bagus-bagus lho!
Sastra klasik sampai modern, bahkan puisi," ucap Rara-anggota sastra book club.

Dan club ini juga mempertemukan Tari dengan tiga orang teman baru, dua diantaranya terlihat nyentrik yaitu Rara dan Hafiz, yang keduanya menjalani kuliah di fakultas sastra, universitas swasta. Sedangkan satu orang lagi bernama Vina, perempuan manis berkacamata yang cukup pendiam diantara kami. Sastra book club ini dibentuk menjadi empat kelompok kecil yang berisi 5 atau 6 orang. Rara, Hadi, Vina, dan Setyo, merekalah kelompok kecil yang diikuti Tari.

"Kalau tentang koleksi, Hafiz dan Vina masih lebih unggul dari saya," sahut Setyo.
"ah, tidak juga kok," Vina menambahkan.
"Kalau Tari sendiri, punya berapa koleksi?" tanya Hafiz.
"hmm, saya baru mengoleksi 7 buku, dan tiga diantaranya adalah karya Buya Hamka," jawab Tari.

“wah, aku punya tuh, biografi Buya Hamka, kamu sudah pernah baca Tari?” tanya Rara menyambung pembicaraan.

Begitulah pengalaman seru Tari berdiskusi serta bertukar pinjam buku dengan yang lain. Hingga ia sadar, bahwa semua itu hanyut dalam mimpinya saat ia harus terbaring di sebuah kamar inap rumah sakit.


Selama tiga hari, Tari harus dirawat di RSCM akibat kecelakaan itu. Selama itu pula, Kelvin dengan rajin menjenguk dan menemani Tari bersama sang ibu. Bahkan, karna ibu Tari tak bisa menyetir mobil sendiri, Kelvin sering mengantarkan ibu Tari pulang pergi dari rumah ke rumah sakit. Dan hari ini, Tari sudah dibolehkan pulang dari rumah sakit. Kelvin pun menjemput ibu Tari dari rumah untuk menjemput Tari pulang. Di dalam mobil hitam SX over, ibu Tari memulai pembicaraan, "Vin, berapa lama kamu berada di Jakarta?".
Kelvin : saya hanya seminggu, Tante.

Ibu Tari : ooh, begitu. Orang tuamu apa kabar?

Kelvin : Baik, Tante. Oh ya, Ayah dan Ibu kirim salam untuk Tante. Maaf, mereka tidak sempat menjenguk Tari karena sedang berada di Solo.

Ibu Tari : Iya, tidak apa-apa. Terima kasih Vin.
Kelvin : Mas Harun ada dimana, Tante? Kok, saya belum melihatnya ya?
Ibu Tari : Harun sedang meneruskan S2 di Jepang.

Kelvin : waah, hebat mas Harun!

Ibu Tari : Alhamdulillah Vin. Kamu kapan wisuda Vin?

Kelvin : Insya Allah tahun ini, Tante. Sekarang sedang revisi skripsi.
Ibu Tari : hmm, semoga sukses ya kamu.
Kelvin : Amiin. Terima kasih Tante.


45 menit berlalu, sampailah mereka di RSCM dan menemui Tari di kamarnya.
"barang-barang sudah di bereskan semua Tari?" tanya Ibu. Sambil merapihkan diri di toilet, Tari menjawab "sudah, Bu. Tunggu sebentar ya Bu". Lima menit kemudian, Tari pun keluar dari toilet.
Tari : Hai, Kelvin! Kamu mengantar Ibu lagi hari ini?
Ibu : Ibu yang minta tolong sama Kelvin.

Kelvin hanya mengembangkan senyumnya sambil mengangkut tas Tari yang berisi pakaian.

Tari : Ayo kita pulang! Aku sudah kangen rumah dan kampus nih! hihi...

Ibu : Ya harus begitu kan, Vin?

Kelvin : betul, Tante. hehe...


Tari, Kelvin, juga Ibu segera keluar dari rumah sakit, dan melaju ke rumah Tari di wilayah Jakarta Selatan.
Setibanya di rumah,
Tari : Kelvin, terima kasih ya, kamu sudah banyak membantu aku dan Ibu selama tiga hari ini.

Ibu : Iya, Vin. Ibu benar-benar terbantu, lho! Terima kasih ya Kelvin.
Kelvin : Sama-sama Tante, Tari. Saya senang bisa membantu Tari dan Tante.

Ibu : Kalau begitu, Ibu masuk rumah duluan ya Tari, Kelvin. Ibu mau masak.

Ibu Tari pun beranjak pergi dari teras masuk ke dalam rumah.
Kelvin : Banyak istirahat ya, Tar. Aku pulang dulu. Assalamu'alaikum.

Tari : Terima kasih banyak ya Vin. Wa'alaikumsalam.


Malam hari itu,
Ibu : Kelvin itu anak yang baik ya? Ibu senang deh, Kelvin banyak bantu Ibu.
Tari : Iya, Bu. Kelvin memang baik.
Ibu : Ayah pernah bilang kan, "kalau Tari dan Kelvin setuju, ayah dan Pak Anwar ingin menjodohkan mereka, Bu." Iya kan Yah?
Tari : Hahh!! Ayah bilang apa?
Ayah : Iya, dulu memang sempat bicara begitu dengan Pak Anwar. Kamu mau Tari?
Tari : aaah, Ayah ada-ada saja...
Ayah : Itu kan harapan Ayah dan Pak Anwar, Tari, supaya hubungan kekeluargaan kita semakin dekat. Tapi, ya terserah kamu, Ayah juga tidak memaksa.

Rabu, 14 Juli 2010

Sebuah Takdir

Bagi Tari, entah sampai kapan ia bisa menjaga perasaannya. Berusaha menyimpan hingga tak seorangpun tahu kecuali dirinya. Walaupun sedikit melelahkan. Tapi, mengasihi atau menyayangi orang lain seharusnya bukanlah suatu hal yang membebani. Karna, ketulusan sebuah kasih sayang terlihat dari kebahagiaan orang yang kita kasihi juga sayangi. Begitulah di malam cerah itu, waktu membawa Tari pada satu renungan.

Hidup berjalan pada porosnya. Hari ini, roda mobil melaju ke arah Perpustakaan Daerah. Tari masih harus mengumpulkan beberapa referensi untuk menyusun skripsinya. Karna satu dan lain hal, Linda tak bisa menemaninya. Jadilah ia pergi sendiri menyusuri jalanan kota. Sebuah alunan lagu dari CD J-Rock mengiringinya. Dan selama perjalanan, beberapa anak jalanan sempat menghampiri jendela, apakah itu mengamen, berjualan koran, atau hanya meminta-minta. Tari sempat berpikir sejenak, 'apakah aku harus memberinya beberapa rupiah, mungkin mereka lapar atau mungkin saja keluarga mereka sedang dalam satu penderitaan yang tak aku ketahui. Ataukah, aku harus mematuhi peraturan pemerintah yang sebenarnya melarang mereka berada dijalan seperti itu?' Tapi, belum sempat Tari memberi keputusan atas pertanyaan dalam pikirannya, lampu hijau sudah menyala. Mobil kuningnya harus kembali melaju, meninggalkan kisah hidup anak jalanan.

Empat puluh lima menit mengemudikan setir mobil, tibalah ia. Menghadapkan diri pada tumpukan buku yang merupakan satu dari sekian tahapan penentu masa depan. Mahasiswa jurusan psikologi semester 6 ini memang sedang disibukkan dengan skripsi. Tepatnya, sibuk melakukan penelitiannya yang berhubungan dengan psikologi anak penderita kanker darah merah. Sebuah penyakit yang belum begitu ia mengerti, sehingga ia harus banyak mempelajarinya terlebih dahulu sebelum memulai penelitian. Dan kunjungannya ke perpustakaan hari ini menghasilkan 4 buah buku yang akan ia pahami hanya dalam seminggu. Sambil membawa tumpukan buku, Tari berjalan dan berdoa, "Ya Tuhan, semangatkan aku selalu. Amiin".
I'm not gonna write you a love song, coz...
Dering handphone berbunyi. "nomor siapa ini ya? hmm, angkat aja dulu deh"
"Halo..." Tari mengangkat handphone-nya.
"Apa benar ini Annisa Batari?"
"iya, kamu siapa ya?"
"Tari apa kabar? Ini aku, Kelvino"
"hmm,, sorry tapi aku masih belum ingat"
"Kelvin anak Pak Anwar, teman ayak kamu. Dulu, kita kan sering main pas acara dinas ayah. Ingat kan?"
"Kelvin yang dulu punya kura-kura peliharaan itu?"
"waah,, kamu masih ingat sama si Gege kura-kura punyaku! Iya, ini aku"
"Kelvin apa kabar? aku baik"
"aku juga baik, kamu masih tinggal di Rt tujuh?"
"masih,masih. kamu kuliah kedokteran di Bandung kan Vin? "
"iya, tapi aku sekarang ada di Jakarta selama seminggu. kamu lagi dimana Tari?"
"aku lagi di pepusda Vin"
"kalau begitu, kita bisa ketemu di Semanggi kan? aku traktir deh"
"dimana Vin?"
"di resto jepang itu"
"oke"
"sampai ketemu"
Tanpa pikir panjang lagi, Tari pergi menemui Kelvin di Semanggi. Kali ini, Tari menyetel CD kompilasinya; I turn to you dan Hero pun melantun merdu. Namun, harus terhenti karna tiba-tiba tebrakan itu terjadi. Sebuah mobil pick up menerjang hebat dari belakang mobil. Seketika itu pula, Tari tak sadarkan diri akibat mobil yang dikendarainya harus terlempar menabrak pohon di jalur hijau, membuat kaca depan mobil pecah, dan Tari terbentur stir. Sementara itu, 5 menit setelah kecelakaan terjadi, Kelvin yang menghubungi handphone Tari hanya mendapat jawaban mailbox. Dengan tetap berharap, Kelvin menunggu di resto sambil mendengar radio. Hingga disiarkannya berita kecelakaan lalu lintas yang korbannya Tari.

Kelvin pun segera mendatangi lokasi kejadian yang telah dipagari police line.
"Pak, teman saya Tari sekarang dimana?" tanya Kelvin pada polisi.
"korban wanita telah dibawa ke RSCM?" jawab polisi.
"Pak, tolong antar saya ke sana, saya temannya Pak" ucap Kelvin bergegas.

Kemudian, Kelvin diantar polisi ke RSCM menemui Tari yang terbaring tak sadarkan diri. Tari mendapat beberapa jahitan di tangan kiri dan perban di kepala.
"Tari, maaf, aku belum memberi tahu orang tua kamu karna aku tidak bisa meninggalkan kamu disini dan aku tak punya nomor ayah atau ibu kamu", tutur Kelvin yang duduk di samping tempat tidur Tari selama hampir dua jam. Sebisa mungkin, Kelvin berbicara pada Tari, layaknya membangunkan orang tidur, agar Tari cepat sadarkan diri. Dan akhirnya, jam 5 sore itu, Tari membuka mata.
"Vin, akuu...." ucap Tari tertatih.
"Tari, kamu di RSCM. Ini, minum dulu ya" kata Kelvin.
"Syukurlah kamu sudah sadar," Kelvin melanjutkan.
"Kok kamu ada di sini Vin?" tanya Tari.
K : "aku dengar dari radio. Oh iya, aku belum memberi tahu orang tua kamu Tari. Karna aku tidak punya nomor yang bisa aku hubungi"
T : "biar aku yang telepon, aku pinjam handphone kamu ya Vin, handphone ku sepertinya hancur"
K : "ini, pakailah"
T : "Bu, aku kecelakaan. Sekarang aku di RSCM. Aku ditemani Kelvino, anak Pak Anwar teman ayah"
Ibu : "Astagfirullah,, iya,iya, Ibu segera ke sana."
T : "terima kasih ya Vin"
K : "maaf ya, ternyata jadi begini"
T : "iya, kita malah ketemu di RSCM Vin" dengan masih bisa tersenyum kepada Kelvin "hmm, aku dapat perawatan apa Vin?"
K : "tanganmu dijahit, kepalamu yang terbentur cukup kuat sehingga memar masih perlu di cek lebih lanjut, dan beberapa lebam di bahu"
T : "kamu calon dokter kan Vin? tolong bantuannya ya Dok"
K : "amiin, iya, mba Tari harus cepat sembuh ya"
T : "oke Dok"
Lalu, pembicaraan mereka pun mencair sampai Ibu dan Ayah Tari tiba, sekitar setengah jam kemudian. Di dalam ruangan kamar inap itu, Kelvin hanyut dalam hangatnya suasana keluarga.

Sabtu, 10 Juli 2010

Buku catatan kuning

Jam 2 malam, namun Kelvin masih berada di kursi belajarnya menatap buku-buku yang harus ia pahami, dan besok adalah hari ujian bedah baginya. Dalam kesunyian dan hening ditemani cahaya lampu manis di meja, tersorot oleh matanya, sebuah buku catatan kuning di sudut rak buku. Terlintaslah rasa ingin tahu dalam benak Kevin. Lalu, diambilnya buku catatan kuning itu yang ternyata bertuliskan ‘semoga sukses selalu’ di sampul. Kelvin pun tersenyum mengingat suatu kenangan indah. Ketika hendah membuka lembar buku itu, terjatuh sebuah kertas di lantai. Hanya sebuah foto dalam sebuah acara keluarga. Acara silaturahmi antar keluarga dari kerabat kerja ayahnya yang berlangsung 7 tahun lalu, membuat hangat hatinya. Kevin tak dapat meng-elak dari menghayati orang-orang yang ada di foto itu. Hingga sampai pada gambar seorang perempuan remaja yang berdiri di belakangnya. Wajah ramah dari gadis lugu itu membuat Kevin kagum. Kevin ingat bahwa si gadis adalah anak kerabat dekat sang ayah. Sementara, nama si gadis tak langsung muncul di ingatannya. Sebenarnya, Kevin ingin mencari tahu nama gadis itu. Namun waktu sepertiga malam hampir habis. Kelvin masih harus melanjutkan belajarnya dengan diselingi shalat malam. Diletakkannya lagi buku itu.

Sinar di ufuk, datang

melintas jendela kamar

lantunan adzan

juga kicau burung

tersapu angin ke telinga

pagi memesona

Tibalah ujian patologi. Semua usaha yang telah Kelvin lakukan, kini diuji selama 2 jam 30 menit, terhitung sejak jam 9 pagi ini. Detik dan jam pergi perlahan mengiringi Kelvin menjalani ujian hingga selesai.

Berakhirlah sudah masa ujian akhir semester yang berganti masa liburan. Setelah meninggalkan kampus, Kelvin segera menuju kos, lalu mengepak baju dan beberapa barang untuk dibawa pulang. Gelora hatinya kian berbunga membayangkan rumah serta orang tua yang tak lama lagi ia temui, setelah satu tahun merantau demi menimba ilmu. Sedikit demi sedikit, tas Kelvin semakin penuh. Kelvin lihat lagi ke seluruh ruangan kamar kosnya, mengecek kembali apakah ada yang masih ingin ia bawa. Kemudian, buku catatan kuning itu pun menjadi barang pilihan terakhir yang dibawa Kelvin pulang.

Perjalanan 5 jam, harus ditempuh Kelvin dengan kereta bisnis supaya ia bisa tiba di rumah. Di dalam gerbong pertama kereta, terlihat cukup ramai. Tapi Kelvin hanya duduk sendiri di kursi. Menatap pemandangan ke luar jendela; pegunungan, sawah, dan sungai, mengingatkan Kelvin pada buku catatan kuning di dalam tasnya. Foto yang ia lihat semalam pula yang membuat Kelvin penasaran ingin segera membacanya. Lalu, dibukalah buku catatan kuning itu, per helai. Isi buku itu hanya catatan hidup Kelvin selama setahun. Dan dengan senang, Kelvin dapat menemukan nama si gadis di foto yaitu Annisa Batari Liyana atau biasa dipanggil ‘Tari’. Pertemuan terakhir Kelvin dengan Tari terjadi 5 tahun lalu, saat Kelvin dirawat di rumah sakit karena terserang demam berdarah. Tiga tahun menjalani kuliah kedokteran di Bandung, Kelvin benar-benar tak tahu menahu dengan kabar Tari. Sehingga, Kelvin memutuskan untuk mengunjungi Tari setibanya di Jakarta.