Blog yang Saya ikuti

Jumat, 20 Agustus 2010

Hujan

Merenungi hari-hari yang telah dilalui, malam ini Tari ditemani hujan dibalik jendela kamarnya. Ia mencoba mengerti, apa dan bagaimana hingga hal itu terjadi. Saat dua hari lalu, ia bertemu dengan Kelvin untuk mencari kejelasan atas kata-kata perjodohan yang ayah ucapkan, sebelum Kelvin kembali ke Bandung, hari ini.

Dengan sedikit meluapkan emosi, Tari berkata kepada Kelvin, "aku sama sekali gak berniat menyinggung atau menyakiti hati kamu, tapi kalau kamu memahaminya begitu, aku bisa apa? aku harap, kamu pada akhirnya tahu, apa yang telah ku katakan tadi." Dan terlihat raut kekecewaan di wajah keduanya. Lalu, di sela suasana dingin antara mereka, Kelvin melanjutkan pembicaraan, "aku minta maaf dan sepertinya aku harus pergi sekarang. Lusa, aku akan kembali ke Bandung. Semoga, kita tetap berhubungan baik setelah ini." Pertemuan mereka pun selesai disitu. Bukan sebuah penjelasan yang ia temui, malah berujung kesalahpahaman.

Jika pembicaraan langsung saja bisa terjadi salah paham, apakah mungkin Tari menjelaskannya melalui telepon atau pesan kepada Kelvin di Bandung. Hujan di luar yang semakin deras, menenggelamkan suara lagu more than words dari westlife di laptopnya. Meskipun begitu, ia kembali duduk di depan laptopnya, dan mengetikkan email untuk Kelvin. Email permintaan maaf yang tak sempat ia ucapkan sebelum Kelvin pergi saat pertemuan terakhir mereka.
"Untuk Kelvin, Teman dan sahabat baikku.
Assalamu'alaikum.
Aku ingin minta maaf, atas kejadian dua hari lalu. Aku menyadari, mungkin secara tidak sengaja aku memang salah ucap. ..."

Waktu itu, Tari benar-benar ingin tahu, apakah Kelvin sudah mengetahui rencana perjodohan ayah mereka. Tari pun memulai pembicaraan, "begini Vin, aku ingin menanyakan tentang ..." Tari menghela napas sejenak. "apa sih? kelihatannya cukup penting", tanya Kelvin dengan nada penasaran. Lalu, Tari melanjutkan, "ayah mengatakan bahwa ia dan ayahmu berencana untuk menjodohkan kita, Vin. Apa kamu tahu itu?" Kemudian Kelvin menjawab, "benarkah? tidak, aku tidak tahu itu." Tari bertanya lagi, "mungkin ayah cuma bergurau ya? tapi, seandainya benar, aku harap kamu mengerti Vin kalau aku tidak suka dijodohkan." "apa karena aku? apa aku tidak pantas untuk seorang Tari?" tanya Kelvin. Dengan sedikit gugup, Tari menjawab, "bukan, bukan, aku hanya tidak suka dijodohkan Vin." Kelvin bertanya lagi, "bukankah itu sama saja, tidak suka dijodohkan berarti tidak suka padaku kan?" Dari sanalah pembicaraan mereka mulai mendingin. Emosi pun bermain.

"... Semoga, ini hanya kesalahpahaman antara aku dan Kelvin. Dan semoga, pertemanan kita bisa kembali seperti sediakala.
Teman baikmu, Tari

Hampir pukul 12 malam, email itu pun terkirim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar