Blog yang Saya ikuti

Minggu, 02 Agustus 2015

Masalah Orang Indonesia

Entah berapa jumlah warga negara Indonesia sekarang, 2 Agustus 2015. Setiap hari, jalanan yang saya lalui di sekitar Tangerang-Jakarta-Depok-Tangerang Selatan, selalu dipenuhi banyak orang. Tangerang-Jakarta-Depok-TangerangSelatan-Bekasi-Bogor adalah kota-kota yang dipadati penduduk yang saya ketahui dengan yakin. Itu bukan masalah. Alhamdulillah. Allah karuniai Indonesia dengan banyak manusia. :) Itu patut disyukuri, karena Rasulullah sholallahu 'alaihi wassalam mengajarkan agar umat muslim memiliki banyak anak. :)

Sayangnya, tidak banyak orang yang mengantisipasi peningkatan jumlah penduduk di Indonesia, sejak dulu. Kalimat saya tersebut memang subjektif. Tapi saya menyatakan demikian karena beberapa hal yang bisa dilihat di lingkungan di sekitar saya saat ini. Pertama, dari segi tata kota, khususnya kota Jakarta, Tangerang dan sekitarnya. Dua kota tersebut adalah kota yang paling sering saya amati. Selain karena tempat tinggal, aktivitas saya banyak dilakukan di dua kota tersbut dan sekitarnya. Tata kota di dua kota tersebut belum dirancang untuk menampung manusia dalam jumlah banyak. Hal ini tercermin dari kemacetan yang terjadi setiap hari, banjir setiap tahun (mulai abad 19 akhir) serta pemukiman-pemukiman super padat bahkan cenderung kumuh.

Kemacetan setiap hari terjadi di Tangerang, Jakarta, Bekasi, dan Tangerang Selatan. Meskipun dinas perhubungan dan pemerintah sudah sediakan alat transportasi Commuter Line (kereta listrik yang mampu menampung banyak orang) dan bus way Trans Jakarta, namun tetap saja kepadatan terjadi di dalam kereta, di dalam Trans Jakarta dan di jalan raya (kendaraan pribadi). Artinya, Commuter line maupun Trans Jakarta, serta alat transportasi umum lainnya, belum mampu mengangkut seluruh orang yang bepergian, khususnya menuju Jakarta di pagi hari dan meninggalkan Jakarta di sore hari.

Banjir yang terjadi, dahulu dikatakan akibat tersumbatnya saluran-saluran air (got dan kali). Menurut saya, itu benar. Selama 24 tahun saya hidup, sejak saya kecil hingga saat ini, saya masih SERING MENEMUKAN ORANG-ORANG YANG BUANG SAMPAH KE SALURAN AIR (GOT dan KALI). Wajar saja bila air hujan tidak bisa dialiri di got dan kali. Namun, setelah saya mengikuti kuliah dari Bapak Dr. Andang Bachtiar dalam mata kuliah Sedimentologi, saya menyadar satu hal baru. Yaitu, bahwa lokasi geografis kota Jakarta dan Tangerang berada di dataran rendah yang cenderung mencekung seperti mangkok.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar